Monday, 19 October 2009

Sukun Sumber Karbohidrat Pengganti Beras

Ditengah kelangkaan pangan dewasa ini, maka Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) dapat merupakan alternatif sumber karbohidrat, disamping itu salah satu komoditas buah yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi karena dapat dijual dalam bentuk segar maupun olahan sebagai alternatif pangan pengganti beras. Pada daerah tertentu umumnya tanaman sukun ditanam pada lahan-lahan pekarangan rumah dengan pemilikan pohon antara 1-5 pohon per keluarga.

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia, maka permintaan terhadap pangan terutama beras, terus meningkat. Padahal sebagaimana dimaklumi upaya peningkatan produksi beras di tanah air tidak mudah untuk dilakukan karena sudah mengalami kejenuhan. Oleh karena itu, perlu adanya terobosan mencari bahan pangan alternatif pengganti beras. Salah satu bahan pangan yang direkomendasikan sebagai subsitusi beras adalah buah sukun karena mempunyai kandungan karbohidrat yang cukup tinggi.

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa dari setiap 100 gram buah sukun segar mengandung 27,12 gram karbohidrat, 108 kalori, 17 mg kalsium, 29 mg vitamin-C, dan 490 mg kalium. Sedangkan dari setiap 100 gram sukun tua yang diolah menjadi tepung bisa menghasilkan energi sebanyak 302 kalori dan karbohidrat 78,9 gram. Dari kandungan kalori dan karbohidrat yang dihasilkan mendekati kandungan yang dimiliki beras yaitu 360 kalori dengan karbohidrat 78,9 gram. Sebagai perbandingan pada tabel dibawah ini disajikan kandungan karbohidrat dan energi yang dihasilkan dari beberapa bahan pangan.

Tabel Komposisi sukun dan bahan pangan lainnya per 100 gram bahan

No.
Jenis bahan pangan
Energi

(kal.)
Protein

(gram)
Lemak

(gram)
Karbohidrat

(gram)
Bagian yg dapat dimakan

1.
Tepung sukun dari buah tua
302
3,6
0,8
78,9
100 %

2.
Sukun tua
108
1,3
0,3
28,2
70%

3.
Beras
360
6,8
0,7
78,9
100%

4.
Jagung kuning muda
129
4,1
1,3
30,3
28%

5.
Ubi kayu
146
1,2
0,3
34,7
75%

6.
Ubi jalar
123
1,6
0,7
27,9
86%

7.
Kentang
83
2,0
0,1
19,1
85%

Sumber : FAO

Produksi sukun di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2000 produksi sebesar 35.435 ton, meningkat menjadi 62.432 ton pada tahun 2003 dan meningkat lagi menjadi 66.994 ton pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 menjadi 73.637 ton dengan luas panen 6.725 ha. Sentra produksi sukun terbesar adalah Propinsi Jawa Barat sebesar 14.252 ton, Jawa Tengah sebanyak 13.063 ton, , Jawa Timur sebesar 6.400 ton, D.I Yogyakarta sebesar 6.577 ton, Kalimantan Timur sebesar 5.744 ton, Sumatera Selatan 4.321 ton, Lampung sebesar 3.458 ton, Sulawesi Selatan 3.266 ton, Nusa Tenggara Timur sebesar 1.156 ton, dan Jambi sebesar 1.921 ton.

Prospek agribisnis sukun masa mendatang sangat menjanjikan karena tanaman sukun tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus dan dapat tumbuh subur pada kondisi ekologi yang beragam. Tanaman sukun dapat tumbuh pada pada dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl, tumbuh baik pada tanah liat berpasir, dengan kondisi bulan kering 1-4 bulan dan bulan basah 6-12 bulan.

Tanaman sukun berproduksi setelah berumur 3–5 tahun setelah ditanam, dan dapat dipanen dua kali setahun. Panen pertama disebut dengan panen raya terjadi pada musim hujan yang jatuh pada bulan Januari-Februari, sedangkan panen kedua atau panen susulan pada musim kemarau jatuh pada bulan Juni-Juli.

Guna merangsang petani agar mau mengembangkan tanaman sukun, maka Departemen Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Hortikultura telah melakukan pengembangan agribisnis sukun pada tahun 2003, dengan menggunakan dana dekonsentrasi (APBN) seluas 380 hektar yang tersebar di beberapa propinsi diantaranya adalah; Propinsi Jawa Timur (Kab. Gresik, Lumajang, Kediri), Propinsi Kalimantan Tengah (Kab. Sukamara, Seruyan), Propinsi Sulawesi Selatan (Kab. Bone), Propinsi Sulawesi Tengah (Kab. Toli-toli), Propinsi Maluku (Kab. Maluku Tenggara), dan Propinsi Maluku Utara (Kab. Halmahera Tengah).

Sejauh ini sukun lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk pangan goreng-gorengan (keripik) namun, melihat potensi dan peluang pengembangan sukun yang demikian besar serta banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari tanaman dan buah sukun, maka sudah saatnya dicanangkan gerakan pemanfaatan buah sukun sebagai pengganti beras. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan mengembangkan teknologi pengolahan pangan dari sukun, sehingga dapat menyajikan buah sukun dan hasil olahannya dalam menu makanan sehari – hari.

Suatu hal penting yang perlu dilakukan adalah promosi dan kampanye konsumsi sukun, baik sebagai menu jajanan maupun makanan sehari-hari. Disamping itu riset pengembangan produk perlu dikembangkan sehingga dapat ditampilkan dalam performan menarik, tahan lama dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Pemutakhiran Terakhir ( Jumat, 06 April 2007 )

UPAYA PENGEMBANGAN KAWASAN TANAMAN HIAS UNTUK EKSPOR

Permintaan tanaman hias di pasar dunia cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun demikian juga permintaan akan produk tanaman hias tropis cenderung terus meningkat. Produsen tanaman hias tropis jumlahnya masih relatif terbatas, dan Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki keunggulan sumberdaya alam yang cukup dipandang mampu melakukan penetrasi pasar internasional tanaman tropis.
Produksi tanaman hias Indonesia tumbuh secara mengesankan dalam beberapa tahun terakhir dan telah memberikan kontribusi pada PDB yang juga meningkat setiap tahun. Pada tahun 2000 kontribusi pada PDB mencapai Rp 2,8 trilyun dan menjadi Rp 4,6 trilyun pada tahun 2004 serta diperkirakan akan menjadi Rp 7,7 trilyun pada tahun 2008 dengan laju pertumbuhan sebesar 13,6% per tahun.
Beberapa kegiatan Ditjen Hortikultura dalam pengembangan dan ekspor tanaman hias antara lain adalah

Polycias telah diekspor terutama ke Korea Selatan dan telah berlangsung sejak tahun 1960an, namun jumlahnya masih sangat terbatas. Para eksportir masih sangat mengandalkan pada tanaman hasil colecting dari kebun disekitar pemukiman penduduk dengan jumlah tanaman yang relatif sangat terbatas dan pemeliharaannya tidak intensif. Hal ini menyebabkan jumlah ekspor dengan kualitas relatif rendah dan kontinuitas tidak terjamin. Polyscias mulai di budidayakan secara intensif dengan fasilitasi Ditjen Hortikultura dan pemda, antara lain di Batam (10 ha) dan Sukabumi (45 ha). Ekspor Polyscias fruticosa ke Korea Selatan cenderung terus meningkat, yaitu pada tahun 2004 (10 container), 15 container (2005), 20 container (2006), 25 container (2007), 30 container (2008) dan tahun 2009 s/d juni 2009 mencapai 18 container dengan target 50 container.
Tanaman tropis Raphis excelsa dari Indonesia di ekspor ke Belanda. Pasar terbesar adalah Inggris dan Jerman, hanya saja eksportir Indonesia belum mampu menembusnya. Indonesia merupakan negara produsen utama komoditi ini dengan negara peasing antara lain Vietnam dan Malaysia. Eksportir Raphis excelsa masih sangat terbatas, hanya 5 perusahaan yaitu PT. Agro21 Gemilang, PT. Benara, PT. Tropical Greeneries, PT. Inti matahari, dan CV. ASA Indonesia. Mereka masih sangat tergantung pada pasokan dari para pengumpul yang mengumpulkan tanaman dari sekitar perumahan penduduk dengan luas yang sangat terbatas dan perawatan tidak intensif. Kondisi seperti ini menyebabkan keterbatasan dalam memenuhi quota ekspor, baik jumlah, kontinuitas dan kualitas.Untuk menambah kemampuan memasok pasar global, Direktorat Jenderal Hortikultura mulai tahun 2008 mengembangkan sentra baru di Sumatera Barat (Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi), Riau (Pakanbaru), dan Kepri (Batam dan Bintan).
Leather leaf atau pakis diusahakan oleh swasta di Kabupaten Magelang (62 Ha), Wonosobo (8 Ha), Cianjur (10 ha) dan Sukabumi (10 Ha). Pasar yang dituju adalah pasar Jepang dengan jumlah permintaan sekitar 150 juta tangkai pertahun. Preferensi pasar Jepang terhadap Leather Leaf Indonesia lebih tinggi dibanding dengan produk asal Costarica dan Amerika karena factok jarak tempuh dan waktu pengiriman yang lebih pendek. Kontribusi Leather leaf Indonesia di pasar Jepang sekitar 5% dari total permintaan, sedangkan Negara lain yang memasok antara lain USA (44%), Costarica (8%), Thailand (1%) dan Negara lain (42%). Untuk menambah kemampuan memasok pasar global, Direktorat Jenderal Hortikultura mulai tahun 2008 mengembangkan sentra baru di Jawa Tengah (Semarang, Magelang, Boyolali dan Wonosobo)
Rencana Ekspor
a) Raphis Excelsa

Ekspor pada kawasan baru di Sumbar, Riau dan Kepri akan dicoba pada akhir tahun 2009 sebanyak 1 container. Untuk tahun 2010 direncanakan 3 container dan 2011 direnanakan 12 container.

b) Polyscias

Ekspor Polyscias akan dicobakan pada tahun 2010 sebanyak 1 container dan tahun 2011 dan seterusnya 2 container pertahun dari Batam.

c) Leather leaf

Ekspor Leather Leaf berbasis kebun plasma pada tahun 2010 akan dicobakan sebanyak 3 juta tangkai. Apabila scenario pengembangan kebun dapat dilaksanakan seperti butir di atas maka pada tahun 2014 dapat di ekspor sebanyak 10,1 juta tangkai

Thursday, 15 October 2009

Khasiat Buah Mangga

Setiap orang pasti mengenal buah ini. Bentuknya bulat, warnanya dagingnya kuning, warna kulitnya umumnya hijau, dagingnya juga ada yang bersemburat merah dan rasanya manis.

Buah ini tidak hanya disukai orang dewasa, tapi juga anak-anak. Mangga (Mangifera indica) adalah buah tropis. Ketika masih mentah (muda), buah ini pun banyak dicari untuk rujak dan dicari oleh wanita yang hamil.
Mangga adalah tanaman buah asli dari India. Namun kini, tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Tanaman Mangga bisa tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah dan berhawa panas. Tapi, ada juga juga yang bisa tumbuh di daerah yang memiliki ketinggian hingga 600 meter di atas permukaan laut.
Mangga memiliki banyak varietas. Ada yang menyebutkan, setidaknnya terdapat 2.000 jenis mangga di dunia. Selain rasanya yang manis dan menyegarkan, buah mangga ternyata juga memiliki khasiat yang baik untuk kesehatan. Sebab buah ini mengandung zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.
Khasiat mangga :
Para ahli meyakini mangga adalah sumber karotenoid yang disebut beta crytoxanthin, yaitu bahan penumpas kanker yang baik.
Mangga juga kaya vitamin antioksidan seperti vitamin C dan E. Satu buah mangga mengandung tujuh gram serat yang dapat membantu sistem pencernaan. Sebagian besar serat larut dalam air dan dapat menjaga kolesterol agar tetap normal.
Mangga memiliki sifat kimia dan efek farmakologis tertentu, yaitu bersifat pengelat (astringent), peluruh urine, penyegar, penambah napsu makan, pencahar ringan, peluruh dahak dan antioksidan.
Kandungan asam galat pada mangga sangat baik untuk saluran pencernaan. Sedangkan kandungan riboflavinnya sangat baik untuk kesehatan mata, mulut, dan tenggorokan.
Mangga pun berkhasiat membantu menyembuhkan berbagai penyakit, diantaranya radang kulit, influenza, asma, gangguan pengelihatan, gusi berdarah, radang tenggorokan, radang saluran napas, sesak napas dan borok. Selain itu juga bisa mengatasi bisul, kudis, eksim, perut mulas, diare, mabuk perjalanan, cacingan, kurang nafsu makan, keputihan, gangguan menstruasi, hernia dan rematik.
Cara Mengatasinya :
Untuk mengatasi radang kulit yang digunakan adalah kulit buah mangga. Caranya, 150 gram kulit buah mangga dimasak dengan air secukupnya hingga mendidih. Dalam kondisi hangat, air rebusan ini dipakai untuk mencuci bagian kulit yang mengalami sakit atau peradangan. Ramuan ini juga bisa digunakan untuk mengatasi eksim.
Penyakit influenza juga bisa diatasi dengan buah ini. Caranya, 200 gram daging buah mangga ditambah 10 gram jahe, dan dua batang daun bawang putih. Bahan-bahan ini direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 250 cc. Kemudian airnya disaring dan diminum selagi masih hangat.
Mereka yang biasa mabuk perjalanan juga bisa memanfaatkan mangga untuk mengatasinya. Caranya, mangga yang sebelumnya dikeringkan lalu direbus dengan air secukupnya. Setelah hangat, tambahkan madu secukupnya dan 10 cc air jeruk nipis lalu diaduk hingga rata. Selanjutnya ramuan ini diminum selagi hangat
Sumber: KabariNews.com/Pipit

Petani Indonesia Berbisnis Lewat Internet, Mengapa Tidak ??

Dikuranginya subsidi pupuk di APBN 2010 seperti disharingkan Mas Khery Sudeska memunculkan kegetiran tersendiri terhadap nasib para petani Indonesia. Namun, seperti yang juga disampaikan Mas Khery, selalu ada peluang di tengah kesulitan. Dengan selalu membuka mata dan telinga, petani Indonesia tetap bisa menangkap peluang bisnis yang ada di mana-mana.

Kalau Mas Khery di sana menyodorkan ide peningkatan produksi pupuk organik oleh petani Indonesia, saya pun ingin ikut urun rembug bagi peningkatan kesejahteran petani Indonesia.

Ide dasarnya adalah petani Indonesia HARUS memanfaatkan internet sebagai alat bisnis mereka. Pemanfaatan internet bagi siapapun yang ingin maju sekarang sudah menjadi kebutuhan mutlak. Seluruh dunia terhubung dengan internet. Jangkauan internet yang mencapai seluruh dunia adalah kelebihan yang sayang bila tak dimanfaatkan.

Ada dua hal yang saya tawarkan untuk kemajuan kesejahteraan para petani Indonesia.

Pertama, adalah dengan terjun ke bisnis produk informasi seperti yang saya lakukan dan mengalami sukses besar di Formula Bisnis dan Rahasia Blogging. Para petani, bisa ikut membuat produk informasi misal bagaimana membuat pupuk organik, bagaimana menanam sayuran, bagaimana merawat tanaman, dan sebagainya. Produk-produk informasi semacam itu di pasar offline merupakan produk yang laris manis dan penjualannya stabil.

Selain langsung terjun ke bisnis produk informasi, yang kedua adalah memanfaatkan internet sebagai alat pemasaran. Misal seperti yang ditawarkan oleh Mas Khery tadi mengenai pembuatan pupuk organik atau penyediaan bahan baku pupuk. Para petani dapat membuat atau mengumpulkan bahan baku pupuk tersebut dan kemudian menawarkannya lewat internet.

Kedua hal tadi bila di-ACTION-kan secara konsisten, saya yakin berpeluang menghasilkan pendapatan yang besar bagi para petani Indonesia. Ada banyak contoh para petani Indonesia atau mantan petani yang telah sukses berladang di internet. Seperti Pak Toha Nasrudin, Pak Nazaruddin Margolang yang memiliki perhatian yang besar pada dunia pertanian, atau Pak Sumintar yang berjuluk petani internet.

Petani Indonesia tidak boleh menyerah! Internet merupakan lahan pertanian terhampar luas yang menunggu untuk anda garap. Mari berladang di internet para petani Indonesia. Cangkul sawahnya, tanami, rawat, dan panen hasilnya.

Salam ACTION!