SUMBER: Harian Republika
Agus SumanDosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang
Dalam bingkai pembangunan dan kemajuan sekarang ini, gambaran pertanian selalu tak pernah lepas dalam warna kelabu dan kegetiran. Melesatnya kemajuan yang terjadi di berbagai bidang, tidak demikian dengan bidang pertanian. Keluhan para petani sudah cukup lama bergema, dan masih berkutat pada persoalan yang sama.
Mengungkit kisah lamaCerita kalahnya produk-produk pertanian kita dengan produk impor serupa seolah menjadi pelengkap pederita dari berbagai kisah lama yang menyelimuti kondisi pertanian seperti kelangkaan bibit dan kesulitan memperoleh pupuk juga berfluktuasinya harga obat-obatan antihama, serta anjloknya harga gabah dan beras.
Kegetiran lain seperti kurang aplikatifnya teknologi budidaya tanaman bukan hanya pada penanganan pascapanen, tetapi terlebih pada persoalan budidaya tanaman, sejak proses tanam hingga panen tiba, juga terus terjadi. Pada pertanian yang rentan terhadap hama, kebutuhan terhadap pembasmi hama bukan pilihan tetapi sebuah harga mati. Sementara permasalahan semakin tingginya harga insektisida, fungisida, dan herbisida tersebut memukul telak ongkos produksi yang harus ditanggung petani.
Bahkan hama-hama baru yang menyerang pertanian seakan menjadi hidangan para produsen obat pertanian. Bagaimana tidak, setiap pertemuan petani untuk mencari solusi persoalan hama yang silih berganti menyerang tanaman, para produsen obat selalu saja memberikan jalan keluar berupa alternatif jenis obat. Mau tidak mau, petani mencoba dan terus mencoba karena tidak ada solusi lain yang bisa dilakukan. Dengan kata lain, dari obat kembali ke obat. Ironisnya, penyuluhan yang dilakukan pemerintah setali tiga uang dengan promosi produsen obat.
Penyuluhan selalu menggandeng produsen obat yang ujung-ujungnya, lagi-lagi menawarkan obat.
Ketika berbagai persoalan pertanian tidak diselesaikan dengan sungguh-sungguh, hal ini akan menjadikan kondisi pertanian semaikn rapuh dan tidak mempunyai daya pikat. Pertanian akan semakin ditinggalkan. Berbagai permasalah ini akan membuat pertanian menuju kematian yang perlahan. Mengapa kisah-kisah ini teralu ringan untuk didendangkan? Memang menyibak berbagai perih yang menempel pada pertanian terasa begitu gampang dibanding menyebutkan kemajuannya.
Lonceng kematianBagaimana negara yang pernah berswasembada beras menjadi pengimpor beras terbesar di dunia? Susah payah membangun swasembada beras, tiba-tiba runtuh. Bahkan di tahun anggaran 1998/1999 Indonesia menjadi pengimpor beras terbesar di dunia. Waktu itu Indonesia mengimpor beras sebanyak 4,8 juta ton. Sampai kini Indonesia menjadi pembeli beras terbanyak di dunia. Sebanyak 10 persen dari beras yang diperdagangkan di dunia masuk dalam pasar produk pertanian dalam negeri.
Bila ketergantungan pada impor beras terus naik, maka Indonesia akan terus menjadi pengimpor beras terbanyak selamanya. Dan inilah petaka pertanian sebuah negara agraris yang lebih dari 40,1 persen tenaga kerjanya berkecimpung pada sektor ini, tetapi tidak sanggup memenuhi kebutuhan paling mendasar dan harus bergantung pada negara lain.
Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Bila mencoba mengurai hulu persoalan semua ini adalah kebijakan pemerintah dalam bidang pertanian yang kadang masih setengah hati. Keberbihakan telah dicanangkan bahkan dijadikan program nasional, tetapi pelaksanaan dan kondisi nyata belum beranjak dari persoalan-persoalan mendasar pertanian kita. Di negeri ini, kebijakan pertanian begitu kompleks, rumit, dan sarat kepentingan berbagai pihak dari petani, pejabat, perusahaan besar, sampai para pemburu rente. Mereka ribet dengan urusannya masing-masing, kongkalikong, dan memburu keuntungan paling tinggi.
Karena ruwetnya kebijakan pertanian di negeri ini, kita hampir tiap tahun mengalami kenaikan harga beras, kelangkaan pupuk di pasaran, anjlognya harga gabah, dan persoalan lain yang merugikan masyarakat. Seperti di akhir 2006, harga beras melonjak lebih dari 30 persen. Memahami kenaikan harga beras sesungguhnya tidak terlalu rumit. Kejadian ini sudah berulangkali dan seperti telah menjadi ritual tahunan.
Namun penyelesaiannya tidak pernah kunjung tuntas, jurusnya itu-itu saja, yakni membuka kran impor beras. Akibatnya seribu satu masalah yang menjadi penyebab ruwetnya dunia perberasan tak kunjung ditangani dengan saksama. Siapa yang dirugikan, tentu saja petani dan masyarakat pedesaan lain. Mereka adalah golongan paling lemah dalam konstelasi ekonomi pertanian nasional.
Kenaiakn harga beras juga gambaran ironi yang lain. Apakah harga beras yang mahal berarti juga peningkatan kesejahteraan petani? Ternyata tidak. Jika sekarang kita merasakan harga beras yang mahal, ternyata kenaikan harga beras itu tidak dinikmati oleh petani. Mereka tetap saja membeli beras dengan harga mahal karena hasil pertanian mereka telanjur dijual dengan harga murah. Harga jual gabah di tingkat petani belum mampu mengangkat taraf hidup petani. Kenaikan harga jual gabah tidak seimbang dengan laju inflasi dan selalu tertinggal jauh dari kenaikan barang konsumsi selain pertanian.
Perjanjian yang ditandatangani pemerintah dalam bidang pertanian juga membuka kran impor beras. Akibatnya harga beras di pasar lokal hancur dan berakibat pada sistem pengadaan pangan lokal dari dalam negeri. Impor beras sebenarnya hanya ditujukan untuk mengendalikan harga beras dan menambah stok di daerah-daerah rawan pangan. Namun kenyataannya daerah yang surplus seperti Lampung, Sumatra Utara, Jawa Tengah, Karawang, Indramayu, juga kedatangan beras impor.
Tentu saja, harga beras dan gabah di daerah tersebut hancur, dan petani mengalami kerugian. Semua ini menjadi suntikan maut yang akan membuat semakin tidak menarik dan melemahnya sektor pertanian dan bila pada saatnya ketika pertanian tidak berdaya, tentu bencana yang lebih besar segera menyusul. Gelombang pengganguran dan kerawanan panggan menjadi sebuah keniscayaan. Semoga kita tidak terlambat menyadarinya.
Suka Mikirin Seks... Gimana Cara Mengatasinya?
-
Diusia remaja ini banyak dari kita yang sering banget pikirannya selalu
mengarah ke seks. Kalau lagi melamun yang dipikirin seks. Duh kalau sudah
begitu ba...
15 years ago
.jpg)